Sabtu, 10 November 2012

ilmu agama


BAGIAN  V
CABANG ILMU PENGETAHUAN YANG DIPELAJARI SANTRI PPTI MALALO
1.     ILMU NAHU
Sejarah ilmu nahu
          Di dalam Bahasa Arab mempunyai kaidah-kaidah (seperti memberi baris)yang harus dimengerti dan dipelajari oleh umat islam atau orang yang akan mempelajari Ilmu agma islam seperti Tafsir Al-Quran dan hadis Rasulullah SAW, kitab-kitab yang mempelajari ajaran Islam seperti kitab tauhid,fikih, tashauf dan kitab-kitab lainnya, karena semua itu berbaha arab, jadi pengetahuan tentang kaidah Bahasa Arab tersebut, agar, jangan sampai tersalah dalam memahami Bahasa Arab tersebut .
Dikisahkan dari Abu Aswad Ad-Duali, ketika Ia melewati seseorang yang sedang membaca Al-Quran, Ia mendengar sang Qar’ membaca surat at-taubah ayat 3 dengan ucapan
¨br& ©!$# Öäü̍t/ z`ÏiB tûüÏ.ÎŽô³ßJø9$#   ¼ã&è!qßuur
Dengan mengkasrahkan (dibaca garis bawah) huruf lam pada kata rusulihi yang seharusnya di Dhommahkan(di baca garis depan) yang menjadikan artinya : “sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya”
Hal ini menyebabkan arti dari kalimat tersebut menjadi rusak dan menyesatkan. Seharusnya kalimat tersebut di Dhommahkan lam yang ada pada “wa rasuuluhu”yang artinya “sesungguhnya Allah dan Rasulnya berlepas dari orang-orang musyrikin.”
          Karena mendengar perkataan ini, Abu Aswad Ad-Dauli menjadi ketakuta, ia takut kaidah Bahasa Arab menjadi rusak dan gagahnya Bahasa Arab ini menjadi hilang, padahal hal tersebut terjadi di awal mula Daula Islam.
          Kemudian hal ini disadari oleh Kalifah Ali Bin Thalib sehingga ia memperbaiki keadaan ini dengan membuat pembagian kata, bab inna dan saudaranya, bentuk idhofah(penyandaran), kata tanya dan selainnya, kemudian Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Abul Aswad Ad-Duali
                 
:Ikutilah jalan in”
          Dari kalimat inilah , Ilmu kaidah Bahasa Arab disebut dengan Ilmu Nahu (artinya nahwu secara bahasa adalah arah).   Kemudian Abul Aswad Ad-Dauli melaksanakan tugasnya dan menambah kaidah tersebut dengan bab-bab lainnya sampai terkumpul bab-bab yang mencukupi, kemudian dari Abul Aswad ad-dauli inilah muncul ulama-ulama besar lainnya, seperti Abu Amru bin ‘allai,  kemudian al-Khalil al-Farahidi al-Bashr (peletak Ilmu arudh dan penulis mu’jam pertama), sampai kepada Sibawaihi dan Kisai (pakar Ilmu Nahwu, dan menjadi rujukan dalam kaidah Bahasa Arab).
          Seiring dengan berjalannya waktu, kaidah Bahasa Arab berpecah belah menjadi dua mazhab, yakni mazhab Bashrah dan Kuffa (padahal keduanya bukan termasuk daerah Jazirah Arab), kedua mazhab ini  tidak henti-hentinya tersebar hingga akhirnya mereka membaguskan pembukuan ilmu Nahwu sampai kepada kita sekarang.
          Demikianlah sejarah awal terbentuknya Ilmu Nahwu, dimana kata nahwu ternyata berasal dari ucapan Khalifah Ali Bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah SAW.
2.     ILMU SHOROF
Sekitar Ilmu Shorof
          Ilmu Shorof merupakan salah satu dari ilmu grammar Bahasa Arab(adabiyatu  arabiyah), secara bahasa ilmu shoraf diartikan sebagai “perubahan”. pada dasarnya ilmu shoraf merupaka ilmu yang mempelajari tentang perubahan kata dalam Bahasa Arab, Ilmu shorof juga dikenal dengan ilmu tentang pengenalan dan pembuatan kata. Perubahan pada kata dilakukan untuk mendapatkan kata dengan makna yang baru atau sekedar mempermudah pengucapan kata, misalnya kata yang bermakna satu orang sedang menolong (nashora), bagaimana kemudian kita merubahnya menjadi dua orang telah menolong dan bisa saja dengan memahami ilmu shorof ini kita bisa merubah kalimat dari pi’il madi menjadi pi’il mudhori’, dari pi’il mudhori’ menjadi masdar, dari masdar  menjadi isim pa’il, dari isim pa’il menjadi isim maf’ul, dari isim maf’ul menjadi pi’il amar, dari pi’il amar menjadi pi’il nahi, dari pi;il nahi menjadi isim zaman, dari isim zaman menjadi isim makan, dari isim makan menjadi isim alat yang istilah itu semua di sebut tashrif sepuluh dalam ilmu shorof.
Ilmu Sharaf Mamfaat mempelajari adalah:
Mampu mengenali kata-kata dari Bahasa Arab serta memahami  dengan benar makna kata-kata itu,
Mampu membuat kata tertentu sesuai dengan makna yang diinginkan.
3.     ILMU TASAWWUF
Tasawwuf itu secara umum adalah usaha mendekatkan diri kepada tuhan dengan sedekat mungkin, dengan melalui pensucian rohani dan memperbanyak ibadah, usaha mendekatkan diri ini b aiya selalu dibawah bimbingan guru/syekh. Ajaran-ajaran tasawwuf yang merupakan jalan yang harus ditempuh untuk mendekatkan diri itu kepada tuhan, itulah sebenarnya tarikat. Dengan demikian dapatlah dikatakan, bahwa tasawwuf itu adalah usaha mendekatkan diri kepada tuhan, sedangkan tarikat itu adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri itu kepada tuhan.
Dr. Ibrahim Hilal mengatakan tasawwuf itu adalah memilih jalan  hidupsecara zuhud, menjauhkan diri dari perhiasan hidup dalam segala bentuknya. Tasawwuf itu adsalah bermacam-macam ibadat. Wirid dan lapar, berjaga diwaktu malam dengan membanyakkan shalat dan wirid, sehingga lemahlah unsur jasmaniah dalam diri seorang dan semakin kuatlah unsur rohaniahnya, dan tak terlena oleh kehidupan dinia ini yang di tunjukkan oleh firman Allah dalam surat al-Hadid ayat 30 yaitu :
(#þqßJn=ôã$# $yJ¯Rr& äo4quysø9$# $u÷R9$# Ò=Ïès9 ×qølm;ur ×puZƒÎur 7äz$xÿs?ur öNä3oY÷t/ ֍èO%s3s?ur Îû ÉAºuqøBF{$# Ï»s9÷rF{$#ur ( È@sVyJx. B]øxî |=yfôãr& u$¤ÿä3ø9$# ¼çmè?$t7tR §NèO ßkÍku çm1uŽtIsù #vxÿóÁãB §NèO ãbqä3tƒ $VJ»sÜãm ( Îûur ÍotÅzFy$# Ò>#xtã ÓƒÏx© ×otÏÿøótBur z`ÏiB «!$# ×bºuqôÊÍur 4 $tBur äo4quysø9$# !$u÷R$!$# žwÎ) ßì»tFtB Írãäóø9$# ÇËÉÈ
Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.[1]
4.     TAREKAT
          Kata tarekat berasal dari Bahasa Arab”thariqah”,yang berarti jalan, keadaan, aliran, atau garis pada sesuatu. Menurut Harun Nasutio, tarekat berarti jalan yang harus ditempuh oleh  calon sufi agar Ia berada sedekat mungkin dengan Allah. Dalam perkembangannya, tarekat kemudian mengandung arti organisasi. Tiap tarekat memiliki syaikh, upacara ritual, dalam bentuk zikir sendiri.
          Abdul Hakim Hasan, sebagaimana yang dikutip Simuh menyebutkan bahwa tarekat pada dasarnya terdiri dari dua bagian. Pertama, mujahadah yang berupa renungan bathin, sedang yang  kedua riyadhah atau latihan rohani yang ditentukan dan diatur oleh para sufi sendiri. Bagian pertama yang merupakan renungan bathin merupakan renungan falsafi, yang terdiri dari mawas diri, penguasaan nafsu-nafsu,pembinaan akhlak mulia (mahmudah), dan memuncak pada pembersihan hati dan keinginan hanya pada Allah saja. Intinya, bagian pertama pada dasarnya merupakan kegiatan individual dan elitisme. Kegiatan ini hanya dapat diikuti oleh orangyang memang punya kemampuan untuk dapat melakukannya sendiri, dan tidak bisa dilakukan oleh orang awam.
          Selanjutnya aspek kedua lebih bersipat praktis. Ia berisi tekni-teknik meditasi yang disebut via contemplativa dengan media zikir dan wirid-wirid lain secara praktis. Oleh karena itulah, aspek kedua lebih memungkinkan untuk diikuti oleh orang awam secara massal.
          Proses pengawaman dan pemassalan penyebaran ajaran tasawwuf bermula dengan adanya sejumlah guru tarekat yang berhasil menyusun teknik-teknik zikir dan aturan-aturan wirid yang kemudian dipergunakan untuk membimbing dan mengajar murid-muridnya. Untuk selanjutnya bagian kedua inilah yang lebih dikenal sebagai tarekat.[2]
Tarekat Naqsyabandiyah
          Tarekat naqsyabandiyah ini tersebar luas di Sumatera, Jawa, maupun di Sulawesi (Abu Bakar Aceh : 307). Umpamanya di Sumatra Barat, di daerah Minangkabau tarekat ini tersiar terutama atas jasa syekh Ismail al-khalidi al-Kurdi, sehingga terkenal dengan sebutan tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah.
          Tarekat ini asal mulanya didirikan oleh Mihammad bin Bahauddin al-Uwaisi al-Bukhari (717 H/1317  M-791 H/1389 M). Ia biasa disebut Naqsyabandi diambil dari kata Naqsyaband yang berarti tulisa, karena Ia ahlidalam memberikan lukisan kehidupan yang ghaib-ghaib sebagai mana dibaca dalam buku The Darvishes karangan J.P Brown.
5.     ILMU TAFSIR
tentang  al-Quran dan tafsirnya
          Al-Quran menurut bahasa yaitu dari al-Lihyani berkata”al-Quran” merupakan kata jadian dari kata dasar “qara’a(membaca) sebagaimana kata rujhan dan qhufran. Kata jadian ini kemudian dijadikan sebagai nama bagi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad SAW. Penamaan ini masuk kedalam kategori”tasmiyah al-maf’ul bi al-mashdar(penamaan isim maf’ul dengan isim mashdar). Mereka merujuk firman Allah pada surat al-Qiyamah: 17-18:
¨
¨bÎ) $uZøŠn=tã ¼çmyè÷Hsd ¼çmtR#uäöè%ur ÇÊÐÈ #sŒÎ*sù çm»tRù&ts% ôìÎ7¨?$$sù ¼çmtR#uäöè% ÇÊÑÈ
17.  Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya, apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.
          Dan al-Quran menurut istilah menurut Abu Syahbah yaitu “kitab Allah yang diturunkan(baik lafaz maupun maknanya)kepada Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan secara mutawatir, yakni dengan penuh kepastian dan keyakinan(akan kesesuaiannya dengan apa yang diturunkan kepada Nabi Muahammad SAW) , yang ditulis pada mushaf mulai dari awal surat al-Fatihah sampai akhir an-Nas, dan mendapat pahala membacanya.
proses diturunkan al-Quran secara berangsu-angsur
Al-Quran diturunkan dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai malan 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi, sampai 9 Dzulhijjah Haji Wada’ tahun 63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H.
          Prises turunnya al-Quran kapada Nabi Muhammad SAW. Adalah melalui tiga tahap, yaitu
          Pertama,al-Quran turun secara sekaligus dari Allah ke lauh al-mahfuz, yaitu suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentua dan kepastian Allah. Proses  pertama ini diisyaratkan dalam Q.S.al-Buruj(85)ayat 21-22:
ö@t/ uqèd ×b#uäöè% ÓÅg¤C ÇËÊÈ Îû 8yöqs9 ¤âqàÿøt¤C ÇËËÈ
21.  Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.
          Diisyaratkan pula oleh firman Allah surat al-Waqi’ah(56) ayat 77-80:
¼çm¯RÎ) ×b#uäöà)s9 ×Lq̍x. ÇÐÐÈ ¼çm¯RÎ) ×b#uäöà)s9 ×Lq̍x. ÇÐÐÈ Îû 5=»tGÏ. 5bqãZõ3¨B ÇÐÑÈ žw ÿ¼çm¡yJtƒ žwÎ) tbr㍣gsÜßJø9$# ÇÐÒÈ ×@ƒÍ\s? `ÏiB Éb>§ tûüÏHs>»yèø9$# ÇÑÉÈ
77.  Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan, diturunkan dari Rabbil 'alamiin.
          Tahap kedua, al-Quran diturunkan dari lauh al-mahfuz itu ke bait al-Izzah (tempat yang berada dilangit dunia). Proses kedua ini diisyaratkan Allah dalam surat al-Qadar(97) ayat 1:
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& Îû Ï's#øs9 Íôs)ø9$# ÇÊÈ
1.     Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[1593].
Tahap ketiga, al-Quran diturunkan dari bait al-Izzah kedalam hati Nabi dengan jalan berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Adakalanya satu ayat, dua ayat, dan dan bahkan kadang-kadang satu surat. Mengenai proses turun dalam tahap ketiga diisyaratkan dalam surat asy-Syu’ara’(26) ayat 193-195:
tAttR ÏmÎ/ ßyr9$# ßûüÏBF{$# ÇÊÒÌÈ 4n?tã y7Î7ù=s% tbqä3tGÏ9 z`ÏB tûïÍÉZßJø9$# ÇÊÒÍÈ Ab$|¡Î=Î/ <cÎ1ttã &ûüÎ7B ÇÊÒÎÈ
193.  Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),  kedalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,  dengan bahasa Arab yang jelas.
          Al-quran diturunkan kepada Nabi Mauhammad SAW. Melalui malaikat jibril, tidak secara sekaligus, melainkan turun sesuai dengan kebutuhan. Bahkan, sering wahyu turun untuk menjawab pertanyaan para sahabat yang dilontarkan kepadaNabi atau untuk membenarkan tindakan Nabi SWA. Disamping itu, banyak pula ayat atau surat yang diturunkan tanpa melalui latar belakang pertanyaan atau kejadian tertentu.
Pengetian tafsir
          Kata tafsirdiambildari kata fassara-yufassiru-tafsiran yang berarti keterangan atau uraian. Ai-Jurjaji berpendapat bahwa kata tafsir menurut pengertian bahasa adalah “al-kasf wa al-izhhar” yang artinya menyingkap (membuka) dan melahirkan. Pada dasarnya, pengertian tafsir  berdasarkan bahasa tidak akan lepas darikandungan makna al-idhah (menjelaskan), al-bayan (menerangakan), al-kasf (mengungkapkan), al-izhar (menampakkan), dan al-ibanah (menjelaskan).
          Menurut Syaikh al-Jazairi dalam shahib at-taujih mengatakan: Tafsir pada hakikatnya adalah menjelaskan lafaz yang sukar dipahami oleh pendengar dengan mengemukakan lafaz sinonimnya atau makna yang mendekatinya, atau dengan jalan mengemukakan salah satu dilalah lafaz tersebut.
6.     ILMU HADITS
Mengenal Tentang Hadits
          Hadis adalah sumber hukum Islam yang kedua, yang berarti segala perkataan Nabi Saw, perbuatan, dan ketetapannya
Macam-macam Sunnah
Sunnah menurut ahli ushul terbagi kepada tiga macam:
          Pertama: Sunnah qauliyah, yaitu ucapan Nabi yang didengar oleh sahabat beliau dan disampaikannya kepada orang lain. Umpamanya sahabat menyampaikan bahwa ia mendengare Nabi bersabda, “siapa yang tidak shalat karna tertidur atau karna terlupa, hendaklah ia mengerjakan shalat itu ketika ia telah teringat,”
          Kedua: sunnah fi’liyah, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw yang dilihat atau diketahui oleh sahabat, kemudian disampaikannya kepada orang lain dengan ucapannya. Umpamanya sahabat berkata, “saya melihat Nabi Muhammad Saw melakukan shalat sunnah dua raka’at sesudah shalat dzuhur.”
          Ketiga: sunnah taqririyah, yaitu perbuatan seorang sahabat atau ucapannya yang dilakukan dihadapan atau sepengetahuan Nabi, tetapi tidak ditanggapi atau dicegah oleh Nabi. Diamnya Nabi itu disampaikan oleh sahabat yang menyaksikan kepada orang lain dengan ucapannya. Umpamanya seseorang memakan daging Dhab(biawak arab) didepan Nabi. Nabi mengetahui apa yang dimakan oleh sahabat itu, tetapi Nabi tidak melarang atau menyatakan keberatan atas perbuatan itu. Kisah tersebut disampaikan oleh sahabat yang mengetahuinya dengan ucapannya, “saya melihat seorang sahabat memakan daging Dhab didekat Nabi. Nabi mengetahui, tetapi Nabi tidak melarang perbuatan itu.








[1]
[2]Tiswarni , Akhlak Tasawwuf,(Jakarta, Safira Jakarta. 2007), hlm, 134

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar